Latest Updates

Latihan angkat beban mampu kurangi risiko diabet pada pria

latihan beban©Shutterstock.com/Kzenon
Sebuah penelitian menemukan bahwa latihan angkat beban secara teratur mampu mengurangi risiko diabetes pada pria hingga 34 persen. Apalagi jika ditambah dengan latihan aerobic seperti jalan cepat, dan berlari.

Penemuan ini didapatkan dari analisa data 32.000 orang Amerika selama tahun 1990 - 2008. Penelitian yang mengalami efek gaya hidup pria terhadap kesehatan ini menemukan bahwa 2.278 partisipan memiliki diabetes tipe-2.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa olahraga aerobic dapat mencegah penyakit diabetes tipe-2," kaya ketua penelitian Anders Grontved dari University of Southern Denmark. "Namun kebanyakan orang mengalami kesulitan untuk melakukan olahraga aerobic."

Untuk itu para peneliti mengamati olahraga lain yang mampu memberikan efek yang hampir sama dengan latihan aerobic pada peningkatan risiko diabetes.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latihan angkat beban jika dilakukan secara rutin dan teratur bisa menjadi alternatif olahraga aerobic untuk mencegah dan mengurangi risiko diabetes tipe-2," jelas Grontved, seperti dilansir oleh Health Me Up (08/08/2012).

Penderita diabet yang gemuk berusia lebih panjang?

gemuk ©shutterstock.com/PeJo

Selama ini, berat badan berlebih sering dihubungkan dengan berbagai penyakit, salah satunya diabetes. Namun penderita diabetes yang gemuk justru berusia lebih panjang daripada mereka yang kurus. Demikian menurut studi terbaru dari Chicago.

Seperti dilansir dari Toronto Sun (09/08/2012), peneliti dari Northwestern University mengulas data dari studi yang melibatkan 2.625 pasien diabetes. Sebanyak 12% dari pasien berusia 40 tahun ke atas tersebut pun digolongkan memiliki berat badan yang normal.

Sebagaimana disebut paradoks obesitas, ternyata risiko kematian justru meningkat pada pasien diabetes yang berat badannya normal. Hasil dari ulasan studi ini kemudian dilaporkan dalam Journal of the American Medical Association.

Peneliti tidak yakin bagaimana kelebihan berat badan justru bisa melindungi pasien dari kematian dini. Mereka menduga gen memegang peranan penting dalam kasus ini. Kemungkinan lain adalah jaringan lemak yang berada di seluruh tubuh mempengaruhi kondisi pasien diabetes.

Meskipun demikian, peneliti juga menegaskan studi lebih lanjut tetap harus dilakukan. Namun tetap saja, bagi Anda yang sehat, sebaiknya jaga berat badan ideal Anda.

9 Saran diet bagi penderita diabet


Penderita diabetes tipe-2 memang butuh penanganan khusus dalam mengonsumsi makanan. Dokter pun sering menyarankan berbagai nutrisi tertentu yang sebaiknya dikonsumsi penderita diabetes. Seperti yang dilansir dari Health Me Up (20/07/2012), berikut ini ada juga saran diet bagi penderita diabetes yang bisa dijalani sebagai panduan makan sehari-hari.

Gula
Gula mengandung glukosa yang bisa meresap ke dalam sel dengan bantuan hormon insulin. Karena penderita diabetes bermasalah dalam hormon insulin, maka sebaiknya Anda membatasi asupan gula.

Serat
Makanan berserat tinggi ampuh menurunkan kadar kolesterol dan gula dalam sarah, sehingga penderita diabetes disarankan banyak mengonsumsi makanan seperti gandum atau oat.

Susu
Susu adalah kombinasi tepat karbohidrat dan protein yang mampu mengontrol kadar gula dalam darah. Penderita diabetes tipe-2 bisa mengonsumsi susu dua kali sehari sebagai menu diet sehat Anda.

Lemak baik
Lemak baik merupakan lemak tak jenuh yang mengatur kadar kolesterol jahat sekaligus diabetes. Temukan kandungan lemak baik dalam minyak zaitun, ikan salmon, dan juga kacang-kacangan.

Buah-buahan
Buah terbaik yang disarankan bagi diet penderita diabetes adalah pepaya, apel, jeruk, pir, dan jambu merah. Sebaliknya, buah yang mengandung fruktosa, seperti mangga, pisang, dan anggur sebaiknya dihindari karena bisa memperburuk diabetes.

Sayuran
Sayuran yang kaya vitamin dan serat sangat dianjurkan bagi penderita diabetes. Temukan sayuran terbaik dalam buncis, brokoli, bayam, dan sayuran berdaun lainnya untuk dikonsumsi sehari-hari.

Porsi sedikit
Untuk masalah porsi makan, penderita diabetes sebaiknya sering makan dalam jumlah kecil daripada jarang makan namun porsinya besar. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan kadar gula dalam darah.

Rencana makan
Sebagai awal permulaan, Anda bisa menghitung asupan karbohidrat yang disarankan dokter. Kemudian membiasakan diri mengubah sistem atau pola makan sehari-hari. Dengan demikian, penderita diabetes akan mudah beradaptasi dan terbiasa menjalani diet sehat.

Contoh menu

    Sarapan: Secangkir teh tanpa gula, segelas susu tanpa lemak, roti gandum atau bubur gandum, dua putih telur dan kecambah sebagai sayuran.
    Makan siang: Salad, roti maryam, sayuran hijau, dan buah-buahan.
    Makan malam: Salad, nasi atau roti maryam, susu, sayuran hijau, dan buah-buahan.

Di antara sarapan dan makan siang serta makan siang dan makan malam, Anda juga bisa menikmati teh tanpa gula beserta camilan sehat seperti kacang-kacangan.

Selain menjalani diet sehat tersebut di atas, penderita diabetes pun sebaiknya rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Kurang tidur bisa menyebabkan diabetes


Hati-hati jika Anda sering kurang tidur, karena ternyata hal tersebut bisa menyebabkan penyakit diabetes. Selain itu, ada lima daftar penyakit mematikan lainnya yang dapat menyerang Anda jika porsi tidur Anda kurang dari tujuh sampai delapan jam setiap harinya. Simak penyakit-penyakit yang muncul akibat kekurangan tidur seperti yang dilansir dariABC News(20/03/2012) berikut ini.

Diabetes

Menurut jurnal diabetes di tahun 2011 lalu, para peneliti dariUniversity of ChicagodanNorthwestern Universitymenemukan fakta bahwa para penderita diabetes tipe 2 identik dengan jadwal tidur yang terlalu malam atau bahkan insomnia akut.

Penyakit kardiovaskular

Penelitian oleh para ahli dariWest Virginia University School of Medicinedi tahun 2010 membuktikan seseorang yang tidur malam kurang dari tujuh jam akan meningkatkan risiko penyakit jantung. Bahkan wanita berusia di bawah 60 tahun yang tidur hanya lima jam atau kurang dari itu akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar dua kali lipat.

Kanker payudara

Para ahli dariTohoku University Graduate School of Medicinedi Sendai, Jepang, melakukan penelitian tentang pengaruh kurangnya waktu tidur dengan kondisi kesehatan. Hasilnya, orang-orang yang tidur kurang dari enam jam akan meningkatkan 62% risiko kanker payudara, sementara mereka yang tidur lebih dari sembilan jam setiap malamnya akan mengurangi 28% penyakit yang sama.

Masalah buang air kecil

Para peneliti dariNew England Research Institutedi Watertown, Massachusetts, menyampaikan hasil penemuannya mengenai masalah kesehatan akibat kekurangan tidur pada pertemuanAmerican Urological Associationdi tahun 2011 lalu. Pada pertemuan tersebut, jika seseorang selama lima tahun berturut-turut tidur kurang dari lima jam per hari, maka ia akan mengalami masalah buang air kecil.

Kanker usus besar

Tidur selama enam jam per hari juga memicu kanker usus besar menurut para peneliti dariCase Western Universityyang melakukan studi tersebut di tahun 2011.

Kematian

Para peneliti dariUniversity of Copenhagenmenemukan fakta yang mencengangkan karena kurang tidur bagi para pria berusia di bawah 45 tahun bisa meningkatkan risiko kematian. Selain itu, orang-orang yang terbangun dari tidur lebih dari tiga kali juga akan meningkatkan risiko keinginan bunuh diri.

Tidur merupakan hal yang paling penting untuk menjaga kesehatan Anda, oleh sebab itu jangan biasakan untuk begadang jika memang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Mengonsumsi blueberry dan apel menurunkan resiko diabetes


Penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli di Amerika Serikat menunjukkan fakta terbaru bahwa orang-orang yang mengonsumsi blueberry, apel, dan buah pir mampu menurunkan risiko serangan diabetes tipe 2. Buah-buahan tersebut mengandung flavonoid, senyawa yang dikenal memiliki fungsi menurunkan risiko penyakit jantung atau kanker.

"Orang-orang yang makan lebih banyak blueberry atau apel, mereka akan memiliki kesempatan lebih kecil untuk terserang diabetes tipe 2," tutur An Pan, salah seorang peneliti dari Harvard School of Public Health, seperti yang dikutip dari MSNBC (19/03/2012).

Hasil penelitian yang telah dilaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini sejalan dengan penemuan tahun lalu mengenai buah-buahan kaya flavonoid yang mampu mengurangi risiko serangan darah tinggi.

Tim dari Pan menemukan fakta orang-orang yang mengonsumsi blueberry akan menurunkan risiko sebesar 23% untuk terserang diabetes. Sementara para penggemar apel yang makan lima buah atau lebih dalam seminggu juga menurunkan risiko yang sama sebesar 23%. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan karena Pan mengakui pihaknya melakukan penelitian ini hanya dalam skala kecil.

Sementara itu, Dr. Loren Greene, seorang dokter dari New York University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut pun menambahkan bahwa konsumsi buah secara utuh jauh lebih baik daripada dalam bentuk jus. Sebab jus buah malah justru mampu meningkatkan kadar gula dalam tubuh karena sifat buah yang melepaskan lebih banyak senyawa gula setelah dijus.

Makan nasi putih setiap hari tingkatkan risiko diabetes


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi nasi putih setiap hari bisa meningkatkan risiko terserang diabetes. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Harvard School of Public Health ini melibatkan setidaknya 352.000 orang dari Cina, Jepang, Amerika Serikat, Australia yang setiap harinya mengonsumsi nasi putih.

Orang-orang yang rutin mengonsumsi nasi putih setiap hari akan meningkatkan risiko sebesar satu setengah kali terjangkit diabetes. Risiko tersebut meningkat lebih besar sebanyak 10% apabila konsumsi nasi yang dihabiskan adalah 5,5 ons atau sepiring penuh setiap sajiannya.

"Aturan ini berlaku bagi warga di negara-negara Asia dan Barat, meskipun nasi putih memang terbukti meningkatkan risiko diabetes, namun orang Asia memiliki risiko yang lebih tinggi lagi," tulis salah satu peneliti di jurnal British Medical Journal, seperti yang dikutip dari CBS News (17/03/2012).

Di Cina, orang-orang memang rata-rata mengonsumsi nasi putih empat kali dalam sehari, sementara di negara Barat konsumsi nasi putih tidak lebih dari lima kali seminggu.

Jika telah terbiasa makan nasi putih, biasanya seseorang akan cepat lapar ketika mengganti nasi dengan bubur atau makanan lain. Oleh sebab itu nasi beras merah sebaiknya mulai dilirik sebagai pengganti nasi putih. Lagipula nasi beras merah mengandung lebih banyak nutrisi yang baik bagi tubuh.

Orang-orang juga disarankan untuk mengurangi konsumsi nasi putih, bukan benar-benar meninggalkannya jika memang belum terbiasa. Meskipun sejarah keluarga merupakan sebab utama seseorang terkena diabetes, namun faktor luar seperti makanan sebaiknya juga dipertimbangkan.

Penelitian ini bukan pertama kalinya mengungkapkan tentang bahaya nasi putih yang dapat meningkatkan risiko diabetes. Tahun lalu, penelitian tentang nasi juga dikatakan mampu menyebabkan kanker karena arsenik yang terdapat pada nasi putih.

Tidur Lebih Lama Bantu Hindari Diabetes?

Diabetes merupakan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Namun dengan hanya menambah jumlah waktu tidur, Anda mungkin dapat terhindar dari kemungkinan mengidap penyakit ini.

Sebuah penelitian tahap awal berskala kecil mengindikasikan, menambah jam tidur pada akhir pekan dapat membantu melindungi tubuh dari risiko diabetes. Studi menemukan adanya perbaikan dalam sensitivitas insulin bagi mereka yang menambah jam tidur di akhir pekan.

Penulis studi dr. Peter Liu asal Los Angeles Biomedical Reseach Institute mengemukakan, pentingnya tidur yang cukup  bagi kesehatan mungkin sudah diketahui, namun untuk mencapainya seringkali sulit akibat tuntutan kerja yang tinggi dan gaya hidup yang sibuk. Padahal manfaat tidur cukup sangat besar, termasuk bisa mengurangi risiko diabetes.

Liu mengatakan, studi yang ia lakukan menemukan bahwa memperpanjang jam tidur dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin, sehingga dapat mengurangi risiko diabetes tipe dua pada pria dewasa.

Studi ini melibatkan 19 pria tanpa diabetes yang berusia rata-rata 29 tahun. Mereka rata-rata tidur selama 6,2 jam setiap hari, namun diminta menambahkan waktu tidurnya di akhir pekan sebanyak 2,3 jam setiap malamnya.

Para peserta kemudian menjalani tidur di laboratorium dalam dua akhir pekan yang terpisah. Mereka dipilih secara acak untuk menjalani variasi tidur dalam jangka waktu tersebut, antara lain 10 jam tidur, enam jam tidur, dan 10 jam berada di tempat tidur.

Kemudian para peserta menjalani pemeriksaan kadar gula darah dan insulin di malam selanjutnya untuk mengetahui sensitivitas insulin mereka. Studi menemukan, peserta yang menjalani 10 jam tidur dalam tiga malam memiliki sensitivitas insulin yang lebih baik daripada kelompok lain.

"Maka penting bagi mereka yang tidak cukup tidur setiap harinya lantaran pekerjaan dan gaya hidup sibuk untuk menyempatkan menambah waktu tidur di akhir pekan untuk memperbaiki sensitivitas insulin mereka," papar Liu.

Kendati demikian, studi masih akan dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Endocrine Society di San Francisco sehingga data dan kesimpulan akurat masih menunggu hingga diterbitkan dalam jurnal.

Sumber :Healthday News, kompas,  Rabu, 19 Juni 2013